Salah satu jalur Inhu dalam perjalanan ke tepian Narosa
Kehadiran jalur-jalur asal Indragiri Hulu ( Inhu ) ikut berpacu dipacu akbar Tepian Narosa Teluk Kuantan, menambah kegairahan luar biasa.

Kehadiran mereka membuat persaingan tidak sebatas diarena pacu juga didunia maya. Adrenalin, gengsi pacu jalur dan gairah menonton serentak meningkat. Pendukung kedua jalur sama-sama berhasrat mereka yang berjaya.

Tetapi perjuangan jalur-jalur asal kabupaten yang dipimpin Yopi Arianto itu patut diacungi jempol. Untuk membawa jalur ke Tepian Narosa stadion utamannya pacu jalur dibutuhkan waktu paling cepat dua hari bagi merka yang berada diperbatasan dengan Kuansing seperti Peranap dan Kelayang, Petalongan dan tiga hari untuk jalur yang berada disekitar Rengat, Lirik dan Air Molek.

Ditengah perjalanan mereka menghadapi tantangan yang tidak sedikit dan juga berbahaya. Arus deras yang tidak bisa diprediksi tergantung curah hujan dan kelelahan serta kondisi mesin pompong bisa membuat nyawa mereka terancam.

Mereka bergerak sepanjang sungai Indragiri dan Kuantan dari pagi hingga malam. Jika tidak waktu yang dibutuhkan lebih dari tiga hari. Tetapi pada pukul10.00 malam berhenti istirahat. Selain lelah, bahaya berjalan dimalam hari juga besar. Tidurpun didalam pompong yang mereka bawa sekaligus menjaga jalur yang diamanahkan pada mereka.

Setidaknya mereka berhenti istirahat dua kali. Pemberhentian pertama bisa di Kelayang dan Petalongan Inhu dan kedua di Baserah atau Pangean Kuansing.

Walaupun perjuangan membawa jalur penuh liku kadang nasib pun tak beruntung. Dihari pertama kadang mereka harus gulung kajang dan pembawa jalur kembali bertugas membawa pulang jalur mereka menyusuri sungai sejauh 165 kilometer dengan perasaan gundah dan tak seoptimisme saat mereka ke tepian Narosa.

Menurut Mukhsal Amindra, pengurus jalur Tuah Kalajengking Muda Indragiri, untuk memudikkan jalur dari desa Redang Seko kecamatan Rengat Barat dibutuhkan delapan orang. Baik yang bertugas dipompong dan jalur.

Rombongan pembawa jalur berbagi tugas selama dalam perjalanan. Ada yang mengemudi pompong dan jalur dan juga memantau kondisi air dipompong.

" Kondisi air didalam pompong dan jalur memang terus dipantau.Kalau air banyak beban makin berat dan bisa karam. Ada tukang timba air selama dalam perjalanan,"ujarnya.

Menurutnya tahun ini membawa jalur ke tepian Narosa sedikit mudah karena debt air sungai Indragiri dan Kuantan meningkat. Kalau debit menyusut memang sedikit sulit karena dibeberapa lokasi sudah sangat dangkal dan menghela jalur juga sulit.

Dana untuk membawa jalur juga cukup besar lebih dari lima juta. Itu untuk sewa pompong, BBM, makan dan honor.

" Untuk makan mereka membawa kompor dan peralatan memasak yang dapat dilakukan selama dalam perjalanan,"ujarnya.

Tetapi yang membahagikan ujarnya persaudaaan dan rasa tolong menolong selama rombongan membawa jalur besar. Jika mereka mengupload keberangkatan jalur di Medsos seperti facebook, pengurus jalur-jalur yang akan dilintasi tak sedikit menawarkan bantuan jika ada masalah diperjalanan dan jika berkehendak berhenti melepas lelah.

" Inilah salah satu nilai yang tercipta, persaudaraan dan saling tolong menolong, namanya berjalan kadang ada masalah seperti mesin pompong rusak dan tali pengikat jalur perlu diperbaiki,"ungkapnya." Kebahagiaan lain jika pembawa jalur sudah melihat arena Tepian Narosa,"tutupnya. ( isa )(sumber)[right-side]
Share To:

Admin

Jangan menganggap remeh kekuatan ombak.

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Cobalah Meninggalkan Komentar Tentang Pengalaman Kerja Anda !